Thursday, November 29, 2012

[Dokter_Keluarga] Pelatihan Fit to work (Pemeriksaan Kesehatan Pekerja) 18-19 Dec 2012 di Jakarta

 

----------------------------------------------------------
This email newsletter was sent to you in graphical HTML format.
If you're seeing this version, your email program prefers plain text emails.
You can read the original version online:
http://ymlp291.net/zN6Nrr
----------------------------------------------------------

Pelatihan Fit to work (Pemeriksaan Kesehatan Pekerja) 18-19 Dec 2012 di Jakarta

Yth Saudara,

Beberapa komentar mengenai Pemeriksaan Kesehatan Pekerja yang dilakukan oleh banyak perusahaan, baik oleh perusahaan sendiri maupun provider:

1. Persyaratan Peraturan

Banyak perusahaan hanya mendasari pemeriksaan kesehatan sebagai upaya pemenuhan peraturan perundangan saja. Akibatnya dicari yang paling murah, dikerjakan membabi buta tidak menurut bahaya dan risiko pekerjaan.

Pekerja sering mengeluh hasil pemeriksaan laboratoriumnya sering tidak masuk akal. Provider sering mengandalkan pemeriksaan laboratorium, bukan pemeriksaan fisik. Dokter yang mengerjakan juga dicari dokter yang paling muda dengan harapan biayanya murah. Sesudah selesai biasanya hasil diserahkan kepada HRD, dan sesudah biaya dibayar file karyawan mungkin diserahkan kepada karyawan atau disimpan di almari.

Sering juga karyawan kebingungan karena tidak ada penjelasan mengenai hasil pemeriksaannya. Tidak ada analisis hasil pemeriksaan, sehingga tidak bisa dipakai oleh manajemen untuk mencegah terjadinya penyakit. Sebagian besar perusahaan sudah melakukan pemeriksaan kesehatan yang sejenis ini;

2. Berdasarkan bahaya dan risiko (job specific);

Beberapa perusahaan sudah melakukan pemeriksaan yang job specific.Jenis pekerjaan tertentu sesuai dengan bahaya dan risikonya menggunakan pemeriksaan tertentu, sehingga pemeriksaan akan dilakukan berbeda untuk setiap karyawan. Analisis pemeriksaan ini biasanya dilakukan, sehingga bahaya dan risiko akan dikenal di mana lokasinya. Setiap karyawan diberitahu hasil pemeriksaannya satu persatu. Jika akan diserahkan kepada HRD, setiap karyawan dimintakan ijin secara tertulis. Provider pemeriksa biasanya diminta menyajikan presentasi di depan rapat P2K3 perusahaan. Tidak banyak perusahaan yang melakukan hal seperti ini.

3. Kualitas pemeriksaan kesehatan

Dokter pemeriksa atau perawat dalam melakukan pemeriksaan sering lupa kaidah pemeriksaan kesehatan dasar. Sebagai contoh misalnya pemeriksaan tekanan darah.

Biasanya mereka melakukannya pada lengan kanan dan lengan kiri sesukanya. Sekali berbaring, sekali duduk. Hasilnya pun selalu dibulatkan ke angka 10, itu jika pakai manometer air raksa. Dengan cara ini tekanan darah tidak bisa dibandingkan antara karyawan dengan karyawan lainnya, bahkan dari waktu ke waktu. Tekanan darah adalah awal dari kematian, jika pengukurannya tidak standard, kita tidak bisa mengetahui gejala peningkatan tekanan darah pada mereka yang bekerja di tempat panas.Pemeriksaan kemampuan membedakan warna sering diserahkan kepada perawat muda. Sementara kemampuan membedakan warna, seringkali menentukan apakah pekerjaan membahayakan diri pekerja sendiri dan orang lain. Pengetahuan sampai sekarang mereka hanya bisa membedakan buta warna total dan parsial. Buta warna merah (protan) yang sangat penting sama sekali tidak terdiagnosis. Apalagi buta warna akibat bahan kimia seperti mereka yang bekerja di perusahaan produsen carbondisulfida.Quality assurance laboratorium klinik juga ambur adul.

Berbeda dengan laboratorium analitik yang sudah banyak di sertifikasi ISO 9000 atau diakreditasi KAN. Jika pemeriksaan dilakukan pada banyak karyawan sesuai dengan kaidah statistik maka distribusi frekuensi akan berbentuk kurva normal. Kebanyakan hasil laboratorium itu tidak normal, bahkan ada yang bimodal. Ini antara lain karena menggunakan laboratorium yang berbeda.

4. Fit untuk bekerja

Mengaitkan antara pemeriksaan kesehatan dengan pekerjaan juga tidak mudah. Dalam pendidikannya seorang dokter muda tidak pernah ditunjukan aneka jenis pekerjaan. Beban kerja dan kapasitas kerja sangat asing buat mereka.

Bagaimana mereka menetapkan apakah seorang karyawan fit untuk pekerjaan tertentu. Karena sempitnya wawasan sering kali dokter muda ini mengunfitkan kadar kholesterol yang tinggi, bukan kapasitas fungsional pekerja (physical fitness).

Untuk membenahi beberapa hal di atas, dengan ini kami mengundang anda untuk ikut pelatihan Fit to work di Jakarta pada tanggal 18-19 December 2012. Silakan hubungi Dewi di HP 082260285686 atau email deejoy6@yahoo.com. Terima kasih atas perhatian saudara.

Salam hangat selalu,
Dr Sudjoko KUSWADJI MSc(OM) PKK SpOk
Occupational Health Consultant and Trainer
Yayasan Sudjoko Kuswadji Bersaudara (Foundation)
Jl Puyuh Timur III EG 3 No 1 Bintaro Sektor 5
Tangerang 15222 Banten Indonesia
Phone : +62 21 7343651 Fax: +62 21 7358966
Cellular: +62 8129290059 Email: zsudjoko@yahoo.com

_____________________________
Unsubscribe / Change Profile: http://ymlp291.net/ugjwsmwegsgbjsgeuqggmyueem
Powered by YourMailingListProvider

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
Dr Sudjoko KUSWADJI MSc OM PKK SpOk
Master of Science in Occupational Medicine
Jl Puyuh Timur III EG 3 No 1 Bintaro Jaya Sektor V
Jurang Manggu Timur Tangerang 15222 Banten Indonesia
Telp: +62 21 734 3651 dan Fax: +62 21 735 8966 HP +62 8129290059
Email: zsudjoko@yahoo.com
.

__,_._,___